Membesarkan Generasi Juara

Kaget, … impresi pertama yang bisa saya kesankan pada kurikulum anak-anak SD jaman sekarang. Anak-anak yang baru bisa baca sudah dipaksa menghafal banyak istilah-istilah dan terminologi. Buku-buku paket sekolah sudah berisi teks-teks yang panjang berparagraf-paragraf. Apakah Depdiknas sudah matang menerapkan kurikulum seperti sekarang?

Mengawal anak pertama saya masuk sekolah SD di kelas 1, saya memutuskan untuk pindah dari Jakarta ke kota kecil nan sejuk di Sumatra, karena keluarga telah lebih dahulu pindah ke sana. Hal ini karena saya dikabarkan oleh istri bahwa si anak sudah depresi berat, tidak semangat dan malas sekolah, mungkin kerna merasa keluarganya tidak lengkap, kesepian dan tidak ada ayah yang mendampingi. Demi membesarkan calon Juara, saya rela melepaskan posisi yang sudah mapan, pekerjaan yang sudah settle dan aman, apalagi tengah krisis global tahap kedua.

Alhamdulillah, dengan model kurikulum sekarang, anak saya masih bisa dapat ranking 4. Kata gurunya, kebetulan ranking 2 sampai 4 nilainya sama, tetapi karena anak saya kurang aktif di kelas, jadinya ya dapat ranking 4. Cukup puas lah saya, soalnya mengingat hari-hari sekolah yang sering bolos, dan PR yang sering tidak buat, anak saya masih bisa dapat ranking 4. Apakah pendidikan di kota ini rendah? Oh tidak, banyak sekolah-sekolah bagus di sini. Kota ini juga merupakan kota asal dari banyak orang penting dan pahlawan nasional, tokoh pergerakan modern melawan penjajah generasi awal di Indonesia (th 1900an). Di samping itu juga, ranking 1 nasional UMPTN tahun 1995 (angkatan saya kuliah) berasal dari kota ini.

Si anak saya masukkan ke sekolah Islam swasta yang (mudah-mudahan) bagus. Soalnya baru 4 angkatan, jadi belum kelihatan banget kualitasnya. Namun dari segi fasilitas memang bagus. Kenapa tidak memilih sekolah negeri atau berstandar nasional bahkan Teladan? Pertama, karena anak saya belum cukup umur, yaitu minimal 6 tahun 3 bulan saat pendaftaran. Alasan kedua adalah karena kami belum yakin akan tetap tinggal di kota ini untuk seterusnya (masih belum permanen), jadi belum punya KTP di sini, sehingga rasanya bakalan susah masuk negeri, karena di sini masih pakai sistem RAYON. Ketiga, dengan kurikulum Plus (SD Islam), mudah-mudahan ada tambahan didikan agama dan akhlak yang baik, untuk bekal masa depannya kelak. So, pilihan SD swasta rasanya lebih cocok untuk situasi saat ini.

Trus, apa keluhannya? Untuk ukuran kurikulum seperti sekarang, saya rasa prestasi anak saya sudah bagus. Dibandingkan dengan jaman saya dulu, buku paket bahasa Indonesia tidak sampai 40 halaman, tulisannya besar-besar, dan satu halaman tidak banyak isinya. Sama juga pelajaran matematika dan lainnya. Tapi saat ini, buku-buku paket jadi tebal-tebal, satu hari anak bawa 3 sampai 4 buku paket, berat-berat, kasihan mereka yang berbadan kecil. Tidak hanya itu, berbagai definisi juga diajarkan untuk anak yang baru bisa baca. Memahami kalimat saja masih suka salah, eee…. ini sudah dikasih macam-macam definisi untuk dihafal dan dipahami. haduh,…. repot.

Karena kurikulum yang padat, anak-anak kelas 1 masuk jam 7.30, selesai jam 11. Karena SD plus, jam 11-12 diisi pelajaran agama, jam 12-13 mengaji/Iqra’ dan solat berjamaah. Jaman saya SD, anak kelas 1 masuk jam 8 pagi dan pulang jam 10. Kelas 2 pulang jam 11. Kelas 3 barulah sekolah 4 jam (waktu itu masuk siang, jam 13 – jam 17). Rasanya tidak heran kalau anak-anak jaman sekarang gampang bosan belajar, termasuk anak saya. Sehingga jadi sulit menyuruhnya belajar lagi di rumah, karena sudah capek dan lelah dijejali banyak materi di sekolahnya.

Apa yang dapat kita lakukan? Saat ini saya cuma bisa mengajak/menghimbau si anak untuk belajar. Tidak bisa dipaksa, karena akan timbul resistensi. Cuma kadang-kadang gerah juga, soalnya PR sering tidak buat, atau kalau buat juga sering salah karena malas baca buku tebal.

Yah,.. itulah kurikulum sekolah di Indonesia. Entah apa yang dipikirkan para penyusun kebijakan kita. Kasihan anak-anak. Kekurangan masa bermain dan masa kanak-kanak.

Membesarkan Generasi Juara,.. jaman sekarang sungguh berat. Karena bahan-bahan pelajaran yang membosankan bagi anak, saya rasa harus diubah. Berharap Depdiknas mencermati kembali kebijakan dan kurikulum yang sudah disusun.

Perihal Om Surya
Share pengalaman dan pelajaran SD-SMA untuk generasi belajar Indonesia, semoga bisa menjadi inspirasi menuju juara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: