Low-profile Philosophy Doctor

Malam ini ada jamuan makan malam oleh dosen saya di salah satu tempat makan tradisional sunda yang enak di Depok. Beliau mengundang kolega dari Norwegia, kemudian beberapa rekan beliau waktu masih kuliah S3 di Jepang, dan seorang mahasiswa alumni S1 di bawah bimbingan beliau, yang sebentar lagi akan berangkat pula ke Jepang untuk S3 (program integrated doctor 5 tahun, S2 included).

Saya terkesan dengan salah seorang kolega beliau, wanita Indonesia lulusan Jepang, kemudian Post-doctoral di Jerman, dan sekarang kembali ke Indonesia menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di wilayah Banten.

Impressed on what?
Ya, dengan sopannya beliau mengambilkan nasi dari bakul ke piring kami semua. Suatu kehormatan ‘dilayani’ oleh seorang Post Doc. Bicaranya pun sopan, lemah lembut, bahasa yang sangat sopan dan ditata dengan baik, bahkan lebih baku dari bahasa yang dipakai para presenter berita. Wah….

Tidak ada arogansi sama sekali, padahal sudah sempat mengalami sekolah post doc pula, mungkin sebentar lagi profesor, kalau kum-nya diurus dan mencukupi.

Kami berkumpul di sini, dalam rangka ramah-tamah sebelum acara seminar yang digagas oleh dosen saya tersebut, untuk dilaksanakan di kampus tempat saya bekerja. Pembicara utama (keynote speaker)-nya adalah profesor dari Norwegia tersebut, yang kebetulan pernah bertemu sekali dengan sang Post Doc, waktu sama-sama mengorganisasi acara konferensi somewhere di Eropa.

Kiranya benar kata pepatah bijak dari orang tua kita: Ibarat ilmu padi, makin berisi makin merunduk.
Sang Low-profile Ph.D telah menunjukkan kepada saya makna pepatah tersebut di dunia nyata.

Tambahan artikel (ditulis di Jepang, 18 September 2016):

Saat saya searching lagi di internet, nama sang PostDoc, ternyata sudah tidak lagi bertugas di Indonesia. Sudah beberapa tahun ini beliau berada di negara lain, salah satu negara di Eropa sebagai senior researcher.

Sayang sekali ya, banyak orang hebat di Indonesia pindah ke luar negeri atau memilih berkarir di luar negeri setelah lulus, karena di Indonesia kurang berkembang, kuran diperhatikan, kurang didukung atau kurang sejahtera.

Padahal penghasilan di kampus swasta tersebut, saya yakin jauh lebih besar dari pendapatan rata-rata dosen kampus negeri di Indonesia. Kalau profesi dosen dan guru tidak lebih berharga dari politikus, dokter, engineer, mungkin masih akan lama negara kita mengejar ketertinggalan dari bangsa lain yang sudah maju.

Oya,… hampir lupa, teman alumni S1 UI yang melanjutkan integrated Doctor ke Jepang tersebut di atas, saat posting ini diperbaharui, sudah lulus doktor dan akhirnya bekerja di Jepang. Ia juga memilih tidak pulang ke Indonesia. Saya sempat bertemu karena satu almamater, Tokyo Institute of Technology.

Perihal Om Surya
Share pengalaman dan pelajaran SD-SMA untuk generasi belajar Indonesia, semoga bisa menjadi inspirasi menuju juara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: