Juara adalah pilihan

“Ma,… aku bosan belajar. habisnya,… susah sih…!! Mau main ke mall dulu ah, refreshing cuci mata”
“Hmmm….. saya lebih cocok jadi guru atau jadi dokter ya? ”
“Aduh,… kalau aku banting setir jadi pengusaha,… nanti kalau gagal gimana?”
“Ah, Tuhan sudah menakdirkan jalan hidupku seperti ini. Jadi ndak perlu lah susah-susah usaha begini begitu. Toh hasilnya sama aja,… orang udah takdirnya gini kok, mau apa lagi? ”

Beberapa penggalan di atas sudah biasa kita dengar sehari-hari. Ungkapan kepasrahan pada nasib, takdir, dan jalan hidup yang sudah pasti. Kebanyakan menyandarkan pada ketetapan Tuhan, bahwa takdir manusia telah ditetapkan di dalam kitab Lauhil Mahfuz. jadi kalau sudah ditakdirkan kadar rezkinya cuma pas-pasan untuk makan, ya sudah diterima saja. Atau kalau sudah merasa bahwa anak kita sudah ditakdirkan untuk jadi nomor kincit di kelas (peringkat bawah)… mau apa lagi? toh dipaksain belajar juga otaknya segitu-segitu aja. Ya,… pasrah dan pasrah.

Allah SWT memang telah menyatakan bahwa jalan hidup kita sudah ditetapkan di dalam kitab yang disebut Lauhil Mahfuz. Tapi jangan lupa, bahwa Allah SWT juga menyatakan, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau bukan mereka sendiri yang berusaha mengubahnya.

Apakah hal ini kontradiktif? Ternyata sangat masuk akal. Setelah saya mendapat gambaran di dalam bidang ilmu komputer, bahwa dalam sistem komputer apapun, selalu ada IF-THEN-ELSE.
Jadi, bahwa jalan hidup kita sudah jelas tertulis, benar. Dan kita pun harus memperjuangkan nasib kita sendiri, sesuai dengan IF-THEN-ELSE rule di atas.

Apakah seorang anak yang tadinya ranking buncit bisa berhasil? InsyaAllah bisa. Ingat IF-THEN-ELSE.
Seorang teman yang dulu kerjanya nyontek saya kalau ulangan, sekarang jadi dosen dan sudah S2 lebih dahulu dari saya.
Teman lainnya yang dulu biasa-biasa, sekarang telah menjadi enterpreneur yang sukses.
Sebaliknya,…. orang-orang yang dulu dominan, sekarang bisa jadi pesakitan. sekali lagi,… IF-THEN-ELSE.

Gambar di bawah ini menggambarkan suatu jaringan kusut (mesh network) dalam sistem jaringan komputer. Bayangkan kalau garis-garis tersebut adalah jalan hidup kita, yang unik antara setiap orang, yang tercatat di dalam Lauhil Mahfuz. Rute mana yang kita pilih, menentukan akhir pencapaian kita pada setiap titik kehidupan kita.

mesh_network_in_our_life

Jaringan kusut dalam kehidupan kita, setiap titik adalah pilihan

Anggap saja posisi saya, atau anda, atau anak-anak kita ada di titik hijau di suatu tempat di dalam jaringan kusut ini. setiap pilihan jalur dari titik ini akan mengantarkan kita ke titik selanjutnya yang berbeda-beda pula.

Jadi, IF saya pilih jalan ini, THEN saya akan mempunyai pendapatan lebih, dengan resiko ini, ELSE IF saya diam saja, THEN saya akan tetap seperti sekarang, selalu berkeluh kesah kekurangan. ELSE, saya ambil jalan itu, THEN saya akan mengalami rugi banyak, baru bisa kaya sepuluh tahun lagi.

Nah,… semua premise setelah THEN,… kita tidak tahu. Di sanalah Qadha berlaku, yaitu ketetapan Allah yang belum terjadi. setelah kita lalui jalan tersebut, hasil yang kita peroleh menjadi Qadar (takdir) yang tidak dapat diubah lagi.

Hasil tersebut adalah satu titik lain dengan percabangan lain pula untuk selanjutnya. Hidup terus berlanjut, dan kita kembali dihadapkan kepada pilihan, IF-THEN-ELSE.

Kalau begitu, mengapa harus menyerah kepada nasib?

untuk ponakan Om yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, jangan ratapi nasib kalau naik kelas sekarang nilainya masih ada yang tidak memuaskan, apalagi angka merah. Pilihlah jalur lain yang akan mengubahmu menjadi juara di semester berikutnya. Karena itu, rambah terus tips jadi juara dalam blog ini ya….🙂

untuk orang tua yang sering memarahi anaknya karena malas belajar, pilihlah jalur lain yang lebih memotifasi anak untuk belajar dengan kesadarannya sendiri, ciptakan lingkungan yang menyenangkan bagi anak untuk belajar di rumah. Jangan dimarahi terus, buatlah suasana lebih “romantis” kepada anak, jangan cuma kepada pasangan saja.🙂

Jadi tidak benar kalau hidup kita adalah straight forward, lurus-lurus saja. Setiap detik adalah persimpangan, percabangan dari IF-THEN-ELSE dari jalan hidup kita yang sudah ditetapkan. Tinggal kita yang mau memilih, rute mana yang akan kita tempuh.

Kalau kita sudah mencapai ujung dari jaringan kusut ini, maka semua rute yang telah kita tempuh akan dipertanyakan, harus dipertanggung jawabkan.

Ilmu yang kauperoleh, untuk apa engkau gunakan?

Umur yang diberikan, untuk apa engkau habiskan?

Harta semasa di dunia, dari mana asalnya dan ke mana dibelanjakan?

Perihal Om Surya
Share pengalaman dan pelajaran SD-SMA untuk generasi belajar Indonesia, semoga bisa menjadi inspirasi menuju juara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: