Membesarkan Generasi Juara (#2)

Pendidikan sekolah untuk anak-anak di Jepang termasuk yang terbaik di dunia. Saya tadinya kurang begitu concern (memperhatikan) dan interest (tertarik), sampai saat harus menyekolahkan kedua anak saya di Jepang. Sehingga, begitu keluarga saya boyong ke Jepang untuk menyertai saya selama menempuh studi doktoral di Tokyo Institute of Technology, saya cepat bersiap-siap untuk mengantar anak-anak ke sekolah dekat rumah.

Tulisan ini agak sedikit panjang. Silakan lompat pada sub judul yang perlu dibaca:

Survey Sekolah

Sebelum kedatangan keluarga, saya sudah survey terlebih dahulu sekolah-sekolah yang akan dimasuki. Yang disurvey adalah lokasi dan penampakan gedung sekolah dari luar pagar, hehehe. Hal ini juga menjadi pertimbangan ketika mencari rumah (apato/apartemen) untuk tinggal dengan keluarga. Saya memilih apato yang jaraknya dekat dengan sekolah, SD(小学校 = shogakko)dan SMP (中学校 = chugakko). Karena anak saya yang pertama, mungkin tidak sampai 1 tahun di SD (kelas 6) selanjutnya akan masuk SMP.

Di Jepang, anak SD dan SMP tidak boleh diantar, dan tidak boleh bawa kendaraan (sepeda), apalagi sepeda motor. Haram hukumnya. Alangkah bebasnya Indonesia ya… anak SD sudah bawa sepeda motor, padahal belum mahir,  belum cukup umur dan tinggi badan. Anak SD Jepang berangkat sekolah berbaris berkelompok dengan teman-teman yang rumahnya berdekatan. Oh,… pantas saja sekolah yang akan dimasuki anak-anak diatur oleh kantor walikota, karena akan disesuaikan dengan jarak ke rumah.
kembali ke atas

Menjatuhkan pilihan

Sampailah pilihan saya pada kota kecil di perbatasan Tokyo. Saya memilih kota yang tidak terlalu jauh dengan kampus, yang dapat dicapai dengan bersepeda kurang dari setengah jam. Jadi kalau saya berangkat ke kampus, saya melewati 3 kota sekaligus, yaitu Yamato, Tokyo dan Yokohama, karena kebetulan posisi kampus dan apato juga sama-sama di dekat perbatasan kota. Kelihatannya jauh ya,… bersepeda melintasi 3 kota, hehehe. padahal cuma sekitar 3-3.5 km.

Jadi, pertimbangan memilih apato yang sekarang saya tempati, adalah karena jaraknya ke sekolah dekat, jarak ke kampus pun tidak terlalu jauh. Kalau urusan memilih sekolah, untuk Jepang semua sekolah negeri dijaga standardnya, dari segi kualitas bangunan, fasilitas, guru, dan dukungan pemerintah kota, sehingga orang tidak pusing pilih-pilih kualitas. Beda dengan di Indonesia, orang berebut memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah favorit walaupun rumahnya di ujung kota.
kembali ke atas

Fasilitas yang Sama di semua Sekolah Negeri

Di Jepang, bangunan sekolah semuanya mirip, dan semuanya memiliki fasilitas yang sama dan lengkap, mulai dari ruang kelas, dapur memasak makan siang, perpustakaan, ruang olahraga indoor/aula/serbaguna, kolam renang dan lapangan. Untuk SMP, ditambah lagi ruang olahraga khusus club (ekstrakurikuler). Tiap sekolah sama fasilitasnya, ada kolam renang!

Karena tidak sabar untuk memasukkan anak-anak ke SD dekat rumah, sebelum keluarga datang ke Jepang, saya sudah menemui kepala sekolah. Sayangnya kepala sekolah tidak bisa bahasa Inggris, tapi Alhamdulillah beberapa guru kelas 6 bisa bahasa Inggris, sehingga saya cukup terbantu. Dari pertemuan awal, saya diberitahu bahwa urusan masuk sekolah diatur oleh kantor walikota, bagian pendidikan. Wah,… di sini serba teratur ternyata. Saya diminta datang ke kantor walikota, ke bagian pendidikan saat anak-anak sudah ada di Jepang. Oh, ternyata begitu prosedurnya…. なるほど(Naruhodo=baru tahu).
kembali ke atas

Mendaftar Sekolah

Sampailah saat yang ditunggu tiba. Keluarga sampai di Jepang, tentu saja saya jemput ke Indonesia, hehehe. Selang 2 hari, setelah dirasa cukup istirahatnya, saya bawa keluarga ke kantor walikota (市役所 = shiyakuso/balaikota). Yang harus dilakukan antara lain adalah pendaftaran penduduk  (sebagai penduduk sementara jangka menengah/mid term resident), agar dicatatkan alamat rumah pada residence card (KTP) yang diterima saat melewati imigrasi bandara.

Setelah itu, pendaftaran sekolah. Kebetulan berada di gedung yang sama, sehingga tidak merepotkan. Waktu saya datang, karena tidak bisa berbahasa Jepang (walaupun sudah belajar sampai J2), didatangkan seorang volunteer penerjemah untuk saya.

Yang penting ditanyakan kepada saya adalah tanggal lahir anak-anak, untuk di-assign ke kelas berapa. Saya sudah prediksi bahwa anak saya akan masuk ke kelas 2 dan 6. Anak pertama sebenarnya baru lulus SD di Indonesia, tapi saya rasa tidak ada salahnya mengulang kelas 6 di Jepang, sekalian belajar bahasa, dan nanti dapat ijazah. Kan keren, lulusan SD Jepang, hehehe.

Perhitungan awal tahun ajaran kelas 1 bagi anak-anak, adalah tanggal 1 April. Barang siapa lahir setelah itu (misalnya 2 April) dan usianya belum genap 6 tahun pada 1 April, akan ditolak masuk SD di Jepang (kayak KUHAP).  Tidak ada sistem fuzzy di sini,… 6 tahun kurang 1 hari tetap ditolak.

Oleh karena itu saya langsung yakin kalau anak saya yang pertama harus mengulang kelas 6 SD. Dan anak yang kedua akan masuk kelas 2, walaupun nantinya tidak full 1 tahun (karena baru masuk Juni, sekitar tanggal 30 Juni 2014).
kembali ke atas

Penentuan Rapat dengan Sekolah

Alhamdulillah sekolah yang dipilih kantor walikota sesuai dengan harapan sebelumnya, karena dekat dengan apato tempat tinggal. Saat itu juga baru ditentukan jadwal untuk rapat dengan sekolah, yang akan dihadiri oleh orang tua, anak, perwakilan sekolah (kepala sekolah, calon guru walikelas, guru BP, administrasi sekolah), dan perwakilan bagian pendidikan (education board) kota, dan penerjemah yang ditunjuk oleh kantor walikota.

Saya agak terheran-heran, kenapa pakai rapat segala? kan sudah ditentukan, sekolahnya yang mana, kelas berapa. Kan tinggal menghadap lagi sama bapak kepala sekolah? Kan dulu sudah janjian sebelum keluarga datang? kan.. ? kan…?

Ini Jepang….. semua serba terencana. Terorganisir dengan baik. Kami pun mencocokkan jadwal. Petugasnya sibuk nelponin sekolah, untuk minta jadwal rapat. Sugoi desune… (mantab…).
kembali ke atas

Rapat Private dengan Sekolah

Saat hari yang ditentukan untuk rapat, kami sekeluarga datang, tepat waktu (jangan sampai ngaret,… ini Jepang….hehehe). Rupanya walaupun tepat waktu, anggota rapat yang lain sudah menunggu.. Warbyasah (luar biasa…). Jadi salah tingkah deh.

Pada rapat tersebut, ternyata ada banyak hal yang didiskusikan. Oh….. baru tahu ternyata ini gunanya rapat koordinasi dengan sekolah, supaya kita dapat mempersiapkan segala sesuatunya demi kelancaran anak-anak masuk sekolah.

Hal yang didiskusikan, antara lain tentang tim berangkat sekolah (kelompok anak-anak yang berbaris sama-sama saat berangkat pagi), tim jaringan komunikasi ketetanggaan (untuk menyampaikan pesan-pesan penting dari sekolah melalui telepon), keanggotaan PTA (Parent-Teacher Association), perlengkapan yang harus disediakan oleh orang tua untuk kebutuhan belajar di sekolah (dikasih daftarnya,.. panjang banget dan harus dibeli semua), teknis makan siang (karena kami tidak bisa makan makanan yang disediakan sekolah, hal ini dimungkinkan, antara lain sebab keagamaan atau alergi), dan teknis untuk waktu dan tempat melaksanakan sholat.

Untuk anak-anak muslim, sekolah-sekolah di Jepang khususnya di kota-kota besar yang saya tahu, sudah memaklumi dan mengetahui kebutuhan khusus tersebut. Dan sekolah mempersilakan membawa bekal makanan sendiri, serta menyediakan tempat yang bisa dipakai sholat.
kembali ke atas

Sekolah Gratis? Ah, masa sih?

Tidak ada biaya SPP, tidak pula biaya untuk buku cetak. Semua gratis. Namun tentu saja ada hal-hal atau beberapa kebutuhan yang perlu dibayar oleh orang tua. Apa saja?

Untuk makan siang di sekolah, orang tua harus membayar sejumlah uang. Tetapi tentu saja kalau dihitung harganya, disubsidi oleh pemerintah kota. Bisa lebih 50% subsidinya, dengan menu yang sehat, susu, buah, dan kalori yang dihitung dengan cermat. Sekitar 4000 Yen sebulan, tergantung jumlah hari aktif makan siang.

Untuk keluarga kurang mampu, biaya makan siang ini dapat direimburse ke kantor walikota untuk diganti 100%, jadi benar-benar gratis. Sebagai mahasiswa yang punya keluarga dan bergantung dari beasiswa, saya dan teman-teman yang membawa keluarga dikategorikan kepada keluarga yang boleh reimburse biaya makan siang tersebut…. (dianggap warga kurang mampu, walaupun bukan warga negara Jepang, hehehe).

Biaya lainnya adalah penyediaan barang-barang yang saya sebutkan di atas tadi. Listnya panjang sekali, banyak banget yang harus dibeli. Saya diberi waktu 5 hari untuk melengkapinya, sebelum hari pertama anak-anak masuk sekolah (bisa lebih sebenarnya, tergantung saya, kapan maunya anak-anak mulai sekolah).

Jadi, sejak kedatangan ke Jepang, sampai hari pertama anak-anak masuk sekolah, ada 2 minggu kosong untuk anak-anak liburan, hehehe.
kembali ke atas

Barang-barang kelengkapan sekolah

Mau tahu barang-barang apa yang dibutuhkan? Panjang listnya, dan harus dibeli sendiri. Beberapa yang saya ingat, antara lain:

  • Baju seragam olah raga, bisa dibeli di mal terdekat, tidak ada merk sekolahnya, hanya kaos putih dan celana pendek berwarna biru dongker.
  • Alat tulis (pensil, penghapus, pensil merah, spidol untuk menulis nama, serutan pensil, penggaris, alas menulis, paper box ukuran Folio, gunting, lem kertas, dsb).
  • Kertas origami, kertas kaligrafi, alat kaligrafi, alat melukis, alat menggambar (crayon dan pensil warna berbahan plastik/plastic crayon).
  • Seruling (untuk kelas 6) dan pianika (kelas 2)
  • Pelindung kepala (untuk gempa)
  • Alas kaki (sepatu indoor) dan sepatu khusus olahraga dalam ruangan
  • Tas kain untuk membawa peralatan
  • Tas kain untuk menyimpan baju olah raga
  • Tas kain untuk menyimpan sepatu olah raga
  • Topi red/white (赤白帽子 = akashiroboshi)
  • dll (lupa)
Buku Tulis SD

bagian dalam buku matematika dan bahasa

buku-tulis-sd

Buku tulis Matematika (sansuu) dan Bahasa (kokugo)

sepatu-sd

Sepatu indoor (di kelas dan ruang aula/olahraga indoor)

pelindung-kepala

Pelindung Kepala (bila gempa)

tas sd

Tas Sekolah SD

 

Untuk perlengkapan tersebut, bagi keluarga kurang mampu juga akan mendapatkan penggantian dari kantor walikota, ada limit maksimumnya, saya lupa. Tapi karena anak saya masuknya di pertengahan, masa pencairan tunjangan peralatan sekolah sudah lewat, tidak mendapat lagi. Tapi masih bisa mendapatkan tunjangan yang lain, yang jadwal pencairannya masih lama.

Baju seragam sekolah untuk SD tidak ada, jadi masih pakaian bebas. Yang mahal itu adalah tas sekolah. Tas anak SD bentuknya seragam, seperti tas yang dipakai Nobita, pada animasi Doraemon. Pada tahu kan? Nah, tas SD ini, warna dan coraknya boleh berbeda. Namun harganya sangat mahal untuk ukuran orang Indonesia. Di atas 1 juta rupiah. Rata-rata penawaran di mal dan  toko alat sekolah adalah 35.000 Yen (sekitar 4 juta) sampai 70.000 Yen. Biasanya yang berharga di atas 50.000 Yen, ada garansi selama anak sekolah SD. Apabila rusak akan diganti baru. Mahal ya? Ini harus diusahakan oleh orang tua.

Alternatifnya, daripada membeli baru, dapat mencari tas sekolah bekas, di mal atau toko yang menjual barang bekas, dengan kondisi yang masih bagus, dan harga yang jauh lebih murah, sekitar 3000 – 6000 Yen. Atau beli di Amazon, ada banyak pilihannya dengan harga yang beraneka macam. Untuk tas, tidak ada penggantian khusus dari kantor walikota. Tetapi sudah include dengan bantuan atau tunjangan awal tahun ajaran, yang besarnya bervariasi untuk setiap tingkatan kelas.
kembali ke atas

Tunjangan Wisata dan Kacamata

Selain itu, untuk anak kelas 5 dan 6, ada acara ensoku, jalan-jalan ke luar kota yang menginap. Anak kelas 5 berupa camping, anak kelas 6 pelesiran ke tempat wisata dan menginap di hotel. Untuk ensoku menginap 1 malam, biayanya sekitar 21000 Yen (2.4 juta rupiah). Nah, saya juga masih berhak mendapatkan tunjangan untuk ensoku tersebut, alias biayanya diganti oleh kantor walikota.

Tunjangan lainnya adalah kacamata, kalau anak-anak menggunakan. Biaya kacamata harus diajukan dalam formulir tersendiri ke kantor walikota, dengan menyertakan receipt pembelian.
kembali ke atas

Buku Pelajaran

Buku pelajaran (buku teks) semuanya gratis, dengan kualitas kertas yang super bagus (kertas glossy lho). Dan full gratis untuk semua kalangan, mampu dan kurang mampu. Di cover bukunya langsung ditulis harga 0000 Yen, seperti HET di kemasan obat di Indonesia.

Untuk buku tulis bagaimana? Buku tulis disediakan sekolah. Karena saat awal masuk anak-anak sudah lewat masa pemberian buku tulis, saya terpaksa beli sendiri dulu. Bentuknya pun beda-beda, ada yang untuk belajar hiragana, untuk berhitung (math), menggambar aktivitas (kalau guru sedang rapat), untuk belajar huruf kanji, dan lainnya. Nanti memasuki tengah tahun, ada lagi pemberian buku-buku tulis tersebut.

Untuk peralatan yang habis pakai ini (buku tulis), biayanya tetap ditagihkan kepada orang tua. Sekali lagi, untuk yang kurang mampu mendapatkan penggantian dari kantor walikota. Jadi, hampir benar-benar gratis kan, bagi masyarakat yang kurang mampu?
kembali ke atas

Pungutan Biaya dan Penggantian dari Kantor Walikota

Sekolah tidak pernah melakukan pungutan biaya-biaya di luar yang resmi, karena semua pungutan dilaporkan ke kantor walikota. Dan berdasarkan laporan tersebut,  tunjangan-tunjangan pengganti tadi dibayarkan kepada orang tua yang berhak. Jadi tidak susah-susah bikin laporan reimbursement, bikin-bikin kuitansi, dan sebagainya.

Jadwal pencairannya juga sudah fix ditentukan. Tepat tanggal pencairan tersebut, maka dana akan otomatis masuk ke rekening bank milik orang tua siswa. Nyaman sekali ya… ?

Ini nih yang perlu ditiru oleh pemerintah Indonesia, agar dana BOS benar-benar tepat sasaran.
kembali ke atas

Sudah cukup panjang, nanti InsyaAllah disambung lagi dengan hari pertama sekolah. Ceritanya tidak kalah seru.

Bersambung …. Hari Pertama Sekolah…

 

Tips Juara (#8): Tips Menjadi Juara dengan Menghafal Qur’an

Assalamualaikum, Halo, こんにちは (Konnichiwa), … adik adik semua. Salam dari Jepang.

Entah kenapa saya kepikiran tips Menghafal Qur’an bisa dimasukkan sebagai tips untuk menjadi juara kelas. Mungkin boleh dicoba, meskipun ini baru dugaan saya saja, belum bisa dipakai sebagai tips yang diakui umum, karena belum banyak yang mengakui. Apa coba… bingung kan?

Pokoknya coba aja, tidak ada ruginya, malah untung yang banyak. Pertama, untuk tiap huruf yang dibaca dapat pahala 1 kebaikan. Kalau berwudhu, dapat 10 kebaikan. Dan kalau membaca Qur’an di dalam shalat, dapat 25 kebaikan. Banyak kan untungnya?

Nah, kalau ayat-ayat Qur’an tadi dihafalkan, maka saat menghafalkannya, pahalanya bertambah amat banyak. Iya kan? Karena 1 ayat aja kita bacanya bisa 20 kali.

Di samping itu, menghafal ayat Qur’an, juga menghilangkan kejenuhan pikiran. Coba deh, saat kepala mumet mikirin tugas sekolah, pelajaran yang enggak masuk-masuk di kepala, coba hafalkan ayat Qur’an. Ulang-ulang hafalan sampai 10 kali, 20 kali, sampai ingat betul-betul. Nanti ingatanmu akan kuat, dan hafalanmu ke pelajaran sekolah pun akan kuat. Yakin deh.

Nah, berikut tips menghafal Qur’an, yang nanti dapat diterapkan juga saat menghafal pelajaran sekolah.

  1. Baca tulisannya berkali-kali, diulang sampai 10 kali. Perhatikan saat membaca, semua hurufnya, posisi hurufnya, letak barisnya. Bayangkan di kepala posisi dan bentuk huruf dan kata di dalam Al-Qur’an pakai otak kanan. (cek lagi postingan mengenai mengoptimalkan otak kiri dengan memanfaatkan otak kanan ya).
  2. Setelah itu, baca tanpa melihat sebanyak 10 kali juga. Kalau masih salah, bolehlah ngintip tulisannya, hehehe.
  3. Baca juga arti setiap kata (cari dari Qur’an per kata, berupa website atau aplikasi di smartphone, coba googling ya…).
  4. Hafalkan juga arti setiap kata, atau setidaknya arti setiap ayat yang dihafal. Ini akan memperkuat dan mempercepat Hafalan Qur’an kalian.
  5. Temukan runutan kisah di dalam ayat-ayat yang dihafalkan. Ini akan memperkuat daya imajinasi kalian dalam mengingat urutan suatu peristiwa, atau urutan proses reaksi kimia, atau urutan prosedur percobaan fisika, dsb.
  6. Menghafalkan ayat yang pendek, misalnya 1 baris di halaman Qur’an, lakukan 1 ayat perhari. Tapi kalau kurang dari itu, buat 2 atau 3 ayat per hari. Agar daya ingat urutannya dapat. Kalau lebih panjang dari 1 baris, boleh dipecah sesuai dengan tanda wakaf (berhenti) yang ada di baris tersebut.
  7. Setelah terkumpul 1 urutan peristiwa atau kisah, lakukan setoran hafalan sekaligus untuk kumpulan ayat tersebut. Misalnya dalam Surah Ar-Rahman, ayat 1 – 4 itu dapat dikumpulakan sebagai 1 kisah, ttg penciptaan manusia yang diajari dengan Qur’an dan diajari berbicara. Ayat 5-6 kisah ttg benda langit. Ayat 7-9 tentang timbangan (mizan). Ayat 10-12 tentang bumi dan isinya (buah/tumbuhan). dan seterusnya. Lebih baik lagi, menghafalnya 1 hari++ sesuai dengan pengelompokan tersebut, diulang-ulang sampai 20 kali baca (sesuai langkah 1 sampai 4).
  8. Kalau sudah dapat 1 kisah, sudah dihafal sampai 20 kali baca, endapkan. Artinya jangan pindah dulu ke ayat berikutnya. Tapi coba diamkan sejenak 1 hari full, jangan dibaca dan dihafal ayat yang itu. Besoknya uji hafalan adik-adik. Kalau masih ingat, boleh dilanjutkan ke ayat berikutnya. Tapi kalau kurang lancar atau ada yang lupa, ulangi untuk 1 hari++. (Om nulisnya ++, pada beberapa kasus bisa lebih dari 1 hari, tapi kasih target jangan lewat dari 3 hari ya. Tidak panjang kok untuk menghafal 1 urutan kisah itu. Kecuali kalau memang panjang banget ayatnya, boleh lah sampai 5 hari, atau sesuai kebutuhan).
  9. Lakukan langkah 1-8, sampai seluruh ayat dalam surah tersebut hafal.
  10. Menghafalnya tidak harus di atas sajadah lho ya, bisa di mana aja. Di angkot, di bus, di kereta. Tapi yang lebih baik di tempat yang tenang dan tidak berisik (misalnya di taman belakang sekolah, kayak nobita… hehehe).
  11. Dan yang lebih penting, menghafal dengan mendengarkan mp3 atau youtube surah yang dihafal, agar bacaannya bagus dan benar, sangat dianjurkan. Contohnya video youtube di bawah ini, sudah Om pilihkan yang ada artinya.

Nah, demikian adik-adik, tips menghafal ayat Qur’an yang Om lakukan. Dan kalau om baru mulai menghafal di atas usia 35 tahun, Om yakin adik-adik yang lebih fresh akan lebih cepat menghafalnya. Dan Om yakin juga kalau dengan menghafal ayat Qur’an, adik-adik jadi tambah cerdas dan cemerlang otaknya dalam menerima pelajaran di sekolah.
Selamat mencoba…

Ditulis di Jepang, jam 10 malam waktu Tokyo.

Wow… blog ini diduplikasi orang

Kaget, senang, susah, was-was, curiga, semua campur aduk, ketika Om ketemu blog yang mengambil/menjiplak/mengcopy bulat-bulat semua posting tulisan om … as it is.. alias apa adanya, termasuk picture, foto, about Om, dsb.

Kaget, karena ada juga yang menjiplak (alias plagiat) untuk mengisi blognya sendiri, dan dengan jiplakannya itu malah blog Om jadi tenggelam di Google. Ya salah om juga sih, sudah lama absen nulis, sehingga blognya jadi tidak update dan banyak sarang laba-labanya… hehehe. Padahal isi dari tulisan di blog Om tentang tips juara kelas sudah jelas mengatakan jangan menyontek apalagi menjiplak (belum pakai istilah plagiat ya.) Nah, kebetulan 2 tahun terakhir Om sedang meneliti tentang plagiarisme, sehingga mulai saat ini akan coba dipakai istilah tersebut biar dapat kata kunci pencarian baru dari Google.

Oh iya,.. Om sekarang lagi di Jepang, sedang jadi mahasiswa lagi biar dapat gelar Ph.D atau doktor (S3). Doain ya adik-adik… supaya bisa beres secepatnya dan tidak melebihi waktu beasiswanya. Om sampai di Jepang dengan beasiswa dari LPDP, di kampus yang lumayan keren dan top ranking universities, yaitu Tokyo Institute of Technology. Jadi harap maklum ya kalau blognya sempat mati suri.

Oleh karena itu, tips yang Om tulis di blog ini, bukan asal ngomong lho, semoga kalian bisa lebih baik dari Om, sekolah ke luar negeri, kampus top dunia, dan lebih muda berangkatnya. Kalau Om baru bisa ke luar negeri di atas 35 tahun, dan di tingkat S3, semoga kalian bisa mencapainya di usia sebelum 25 tahun, dan mulai dari S2 atau bahkan sejak S1. Kan keren tuh…

Senang, karena ada juga orang yang berminat dengan tulisan Om, dan menaruhnya di blognya. Artinya walaupun mungkin tulisannya jelek, tapi ada yang memakai,.. hehehe. Dan dengan bantuan jiplakan tersebut, pesan atau message yang ingin disampaikan kepada adik-adik pelajar, dapat tetap ditemukan oleh Google, di antara bejibun tulisan baru tentang tips juara kelas.

Susah, karena mungkin karena ada tulisan yang sama, maka blog Om jadi hilang di mesin pencari Google. Si mbah Google akan memilih dan menampilkan hasil pencarian dengan tanggal tulisan yang lebih mutakhir. Gimana Om enggak jadi susah hati karenanya, sebab untuk menulis blog, sering mikirnya lama, sampai begadang-begadang edit sana edit sini, agar bahasanya bisa nyambung sama bahasa-bahasa anak muda jaman sekarang,… Gak usah detail ah,.. soalnya nanti ada yang tersinggung kalau disebut sebagai generasi al*y. Om percaya kok, kamu yang sampai ke blog ini tidak termasuk, cuma kebetulan tumbuh dan berkembang di antara mereka. ..Peace…

Was-was,… jangan-jangan blog Om nanti bakalan ketemu di halaman 100 hasil pencarian Google. Lah, siapa yang mau browsing sampai halaman 100? sampai halaman 3 aja malas. Iya enggak?

Curiga, … jangan-jangan yang melakukan penjiplakan blog Om pakai aplikasi robot untuk mendeteksi tulisan-tulisan baru di blog Om, lalu dicopy juga ke blognya dia. Akhirnya tulisan di blog om bisa jadi obsolete terus. Dan selalu tenggelam. Wah… om harus cari tahu nih,… teknik yang dipakai oleh blogger yang pengennya instant dapat hit counter.

Mestinya gak boleh curiga, ya… karena sebagian  prasangka itu dosa. Kalau mau lihat sisi positifnya, ya itu tadi. Pesan atau message yang ingin Om sampaikan tetap bisa ditemukan oleh Google, walau barusan Om lihat sudah tenggelam ke halaman 3, karena banyaknya blog-blog atau website lainnya yang menulis tentang tips juara kelas.

Lanjut lagi deh, semoga bisa aktif lagi nulis blog ini, di sela-sela kejenuhan riset atau lagi mentok. Semoga bisa seger lagi habis nulis. Menginspirasi orang lain, semoga dampaknya kembali kepada diri sendiri, jadi terinspirasi untuk semangat lagi…. he..he..he.. Ganbatte.

Tips Juara (#7): Menjadi Seperti Habibie (ada 6 sifat teladan)

Menjadi Seperti Habibie

Pembaca budiman, sudahkah anda menonton film Habibie & Ainun? Habibie adalah mantan Presiden ketiga Republik Indonesia yang hanya sempat menjabat sekitar 2 tahun kurang, setelah presiden sebelumnya, Bapak Suharto lengser ke prabon.

Habibie atau lengkapnya Baharuddin Jusuf Habibie (Rudy) adalah putra Indonesia yang sangat brilian, pintar dan pekerja keras. Amat disayangkan, bangsa ini telah menyia-nyiakan beliau sedangkan di Jerman beliau sangat dihormati, baik oleh kalangan perusahaan swasta maupun pemerintahan.

Saya berkesempatan berkunjung ke IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) pada saat menjadi mahasiswa baru di ITB tahun 1995. Kalau tidak salah, saat itu pesawat N250 Gatotkoco asli buatan bangsa Indonesia baru terbang perdana, dan sedang diproduksi beberapa unit untuk memenuhi pesanan dari Thailand dan Vietnam. Saya dan kawan-kawan mahasiswa baru diberi kesempatan memasuki ruang kabin prototip pesawat, melihat-lihat dan bahkan menduduki kursi pilot di ruang kokpit. Mencoba handle kemudi, tuas kendali dan pedal kaki untuk pengendalian macam-macam fungsi penerbangan. Kita harusnya bangga karena prestasi membuat pesawat terbang sendiri dapat mengangkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia internasional.

Baiklah, kita tidak mencoba membahas masalah politik dan krisis ekonomi yang membelit bangsa Indonesia tahun 1997-1998, yang mengakibatkan ditutupnya IPTN dan dihentikannya semua riset dan kegiatan memproduksi pesawat terbang. Kita akan membahas hal-hal positif yang dapat dicontoh dan diteladani dari Pak Habibie dalam hal mencapai prestasi dengan kerja keras.

1. Tipe Pekerja Keras

Habibie adalah pekerja keras dan pantang menyerah. Walaupun menghadapi banyak persoalan matematika yang rumit ketika kuliah untuk kelulusannya dari studi doktor (S3), tetapi tetap dapat menunjukkan prestasi (achievement) di bidang riset yang diikutinya di perusahaan. Pada bukunya, Habibie & Ainun, beliau menceritakan bahwa waktu 1 hari dibagi antara tugas di kampus, tugas di perusahaan, dan tugas lainnya sehingga baru pulang ke rumah tengah malam. Sering harus berjalan kaki karena sudah kehabisan bus.

2. Jujur

Habibie memegang teguh kejujuran baik selama studi, bekerja, sampai saat menjadi pejabat di republik ini. Ketika studi, beliau berterus terang kepada supervisornya, mengenai jadwal, assignment dan kegiatan bekerja. Termasuk saat mendapatkan tawaran pekerjaan yang menggiurkan, beliau tetap berkonsultasi dan meminta ijin dari supervisor beliau yang juga adalah atasan beliau di perusahaan yang membiayai riset pesawat terbang. Sampai menjadi pejabat di Indonesia pun, beliau menolak sogokan, gratifikasi, dan berbagai bentuk pelicin. Bandingkan dengan pegawai jaman sekarang, sulit mencari yang jujur seperti beliau.

3. Menyukai seni (otak kanan juga aktif)

Habibie juga suka mendengarkan musik, menyanyi bahkan menari (dansa). Di samping itu beliau juga suka drama seperti opera dan film. Kalau tidak suka, maka film Habibie & Ainun tidak mungkin ada, dan peran utamanya tidak akan sebagus itu. Ternyata Pak Habibie langsung mengawasi pembuatan film dan dialog yang dilakukan oleh Reza, pemeran Habibie dalam film tersebut.

4. Mencatat

Habibie selalu menyediakan buku catatan. Ke mana pun pergi, bahkan saat bertemu orang dan membuat janji, semua dicatat di dalam catatan. Apatah lagi kalau sedang kuliah atau belajar, tentu catatannya sangatlah banyak. Nah, bagaimana dengan siswa jaman sekarang? Saya geleng-geleng kepala kalau mengajar kuliah, karena mahasiswa tidak punya buku catatan. Kalau catatan saja tidak punya, apalagi buku cetak atau text book. Begitu ujian, kertas jawaban kosong melompong, sehingga gampang sekali menuliskan nilainya. Pada saat nilai akhir sudah dikeluarkan, mahasiswa ybs datang mengemis belas kasihan agar nilainya dinaikkan. Minta tugas lah, buat makalah lah, dll. Sungguh ironi.

5. Berani Bersuara

Habibie tidak sungkan apalagi minder saat harus mempresentasikan teori, konsep, simulasi maupun hasil kalkulasinya, walaupun belum dapat dibuktikan dalam situasi real. Berani bersuara, atau berbicara, tentu saja didukung oleh rasa percaya diri yang kuat. Kepercayaan diri tersebut tumbuh dari banyaknya latihan dan membaca, sehingga inti permasalahan dan solusi menjadi sangat dipahami, sampai seluk beluk yang sedetil mungkin.

6. Berlatih

Habibie rajin berlatih, baik itu melatih daya pikir (otak) maupun fisik (otot) dengan berolah raga. Melatih daya pikir dengan belajar tidak usah ditanya, sudah itulah pekerjaannya sehari-hari, sebagai pemikir. Melatih fisik dengan olah raga, juga rajin dilakukan Pak Habibie. Saya masih ingat pada saat krisis moneter tahun 1998, beliau menjabat Presiden RI. Tidur hanya 2 jam sehari, namun tetap segar bugar. Hal ini karena beliau setiap malam selalu menyempatkan diri berenang, sehingga tubuh menjadi kuat.  Jadi kalau mau kuat fisik dan otak, kuncinya adalah berlatih, berlatih, berlatih.

Nah, semua yang telah diuraikan di atas, adalah 6 poin Tips Juara yang sudah saya tuliskan dalam posting sebelumnya.Silakan dibuka kembali linknya.

Semoga bermanfaat.

Tips Juara (XXX) Optimalkan Otak Kiri dengan Memanfaatkan Otak Kanan

Tips ini sengaja tidak diberi nomor, karena dari semua tips yang sudah dan masih akan disampaikan, rasanya ini yang termasuk paling penting, dan perlu diterapkan juga pada tips-tips lainnya. Dianya masuk di semua tips juara kelas.

Bagaimana pula maksudnya?

Ya, memanfaatkan otak kanan untuk mengoptimalkan otak kiri.

Kita tahu, sistem pendidikan indonesia lebih memaksa otak kiri untuk bekerja keras, dan sedikit sekali memperhatikan tumbuh kembang otak kanan, bahkan sejak TK. Lihat saja anak-anak TK jaman sekarang sudah dipaksa bisa baca dan hitung, padahal yang namanya TK adalam taman kanak-kanak. Di taman mestinya anak-anak berekreasi, bermain, bercanda, eee… ini malah digenjot untuk bisa baca tulis dan hitung. Malah guru SD sekarang agak santai tidak repot ngajarin anak membaca menulis lagi.

Disimak terus sampai SD, SMP, dan SMA, semua pelajaran juga memaksa dan memforsir otak kiri bekerja keras. Tidak heran kalau di Indonesia, rata-rata penderita stroke mengalami lumpuh sebelah kanan, karena bagian tubuh ini dikendalikan oleh otak kiri. Dan otak kiri kita sudah kelelahan, sehingga lebih cepat usang dibanding otak kanan, karena dipakai terus menerus…..

 

Perlu disetrum dulu?

Beberapa tahun belakangan ini, ada sistem penstimulasi otak yang katanya bisa mencerdaskan orang tanpa belajar. Katanya,… sekali lagi katanya,…. otak akan dipasang elektroda dan diberi sinyal listrik, sehingga ada saraf-saraf yang tadinya tidur, kemudian akan aktif. Inilah proses aktivasi otak, yang akan mencerdaskan itu.

Kemudian, orang disuruh membaca sekilas satu buku, atau setidaknya beberapa halaman, maka ia akan dengan cepat mengingat isi buku tersebut, bahkan kata per kata. Ia akan ingat di mana posisi suatu kalimat di dalam paragraf, dan di halaman berapa pada buku itu.

Wah,… saya kok kurang yakin dengan metode ini ya. Karena pada saat aktivasi, anak dibawa masuk ke ruangan, orang tua tidak boleh ikut. Otaknya akan diaktivasi. Kalau saya membaca aktivasi=setrum.

Gimana kalau salah setrum, trus anaknya jadi sedeng/senget/sinting,…. bahaya kan? Berharap mau cerdas, malah sebaliknya.

 

CARA LAMA YANG TAK LEKANG OLEH ZAMAN

Saya lebih percaya cara lama, dan memang terbukti, paten dan teruji.

Membuat otak agar cerdas adalah dengan training, kontinu, dilatih, practising, dan terus menerus. Tidak ada otak yang cerdas kalau terbiasa tidur. Jadi mengaktivasi otak adalah dengan dilatih.

Olahragawan tidak akan jadi juara tanpa berlatih. Susi Susanti jadi juara bulutangkis karena rajin latihan. Ade Rai badannya bisa berkotak-kotak karena berlatih, beda sama saya yang tak pernah latihan, badannya ya jauh dari Ade Rai.

Spesialis IT, misalnya programmer (om Mark Zuckenberg pembuat facebook) atau network specialist (misalnya om Himawan CCIE Indonesia), jadi jago komputer atau jaringan karena sering berlatih.

Kasir di bank terampil menghitung uang pakai jari jemarinya nan lentik pun bisa ahli karena berlatih.

Koki atau chef (om Juna master chef), jago masak karena sering berlatih. Karena itu koki kalau masak tidak lagi lihat buku, tapi pakai feeling saja meracik bumbu-bumbu, sehingga rasa masakannya bisa Mak Nyusss.

Jet li dan Jacki Chan, bisa jago kung fu tentu saja dari latihan. Perut seorang jago kung fu keras tahan pukulan karena sering dilatih sit up, makanya ototnya keras. kalau perut saya yang lembek ini, tak pernah sit up, kalau dipukul bahayya, bisa muntah tah tah tah…

Bahkan, pencuri kelas kakap (seperti film-film action holliwood yang membobol bank atau brankas penyimpanan berlian, sampai museum yang menyimpan lukisan asli PICASSO) dan ahli korupsi (yang tidak terendus juga oleh KPK) juga lihai dan tidak ketahuan menilap uang rakyat karena sudah terlatih. Khusus yang ini wajib dijauhi.

Adik-adik bisa cari sendiri contoh lainnya bagaimana orang jadi ahli, terampil, juara, karena berlatih.

Jadi, kata kuncinya adalah BERLATIH, PRACTISING, TRAINING….TERUS MENERUS

 

Terus, bagaimana melatih Otak Kiri dengan memanfaatkan Otak Kanan?

Nah, terkadang kita cepat menyerah kalau hanya mengandalkan otak kiri saja. Baru 5 menit, melihat sederatan rumus dan angka, biasanya lebih cepat bosan dan lelah. Untuk itu, manfaatkan otak kanan.

Otak kanan, berkaitan dengan yang indah-indah. Seni, bahasa, bentuk, visual dan seterusnya. Sedangkan otak kiri, memproses angka, matematika, hitungan, sebab akibat, verbal dan seterusnya.

Dengan mengombinasikan antara seni dan angka, bahasa dan matematika, bentuk dan hitungan, atau visual dan verbal, akan meningkatkan kemampuan pemahaman adik-adik akan pelajaran berkali-kali lipat.

 

Membuka Rahasia Juara

Waktu saya sekolah, saya menyukai angka, matematika, dan aktivitas otak kiri, karena didukung oleh kreativitas otak kanan. Saya baru menyadari belakangan ini. Sejak kelas 1 SD, saat guru menggambarkan angka dengan visual, katakanlah 5 ikat lidi. Guru menggambar garis-garis terus diikat dengan karet. Ada gambar ikatannya, jumlah semua lima ikat. Sedangkan saya menggambar lidi dalam bentuk yang lebih rapih, 3 dimensi dengan ketebalan dan ada pentul korek apinya sekalian. Saya gambar lidi terikat tersebut di buku latihan sesuai dengan soal. Dalam benak saya yang masih polos waktu itu: “ini lidi, bukan jarum, apalagi rambut… “. hehe

Demikian juga dengan contoh-contoh lainnya, misalnya 3 orang + 4 orang = 7 orang. Saat guru menggambar orang yang bentuknya kerangka dengan bulatan kepala seperti orang-orang sawah, saya menggambar bentuk utuh orang dengan sedikit otot, pakai baju pula, tidak sekurus tulang-belulang yang dicontohkan guru. Inilah yang menyebabkan buku latihan matematika saya lebih artistik, kelihatan lebih “KANAN” dibandingkan dengan buku kawan-kawan lainnya. Mungkin sejak saat itu guru menilai saya lebih baik (baca kreatif) dari kawan-kawan lain, sehingga jadi JUARA KELAS.

Pengembangan kreativiatas otak kanan ini terus berlanjut saat SMP dan SMA. Buku catatan sekolah saya paling “CANTIK”, baik untuk dibaca maupun untuk sekedar dibolak-balik saja kayak kita baca majalah wanita.  Orang kalau buka majalah wanita paling cuma lihat gambarnya saja, kalau ibu-ibu lihat model baju, model tas, sampai model masakan yang ada dalam majalah tersebut.

Nah, buku catatan saya mirip kayak majalah wanita tersebut, setidaknya dari cara kawan-kawan membolak-balik halamannya, hehehe.  Karena buku catatan itu dilengkapi dengan gambar dan tulisan berwarna-warni, setidaknya ada garis-garis bawah yang berwarna-warni untuk kata-kata penting yang akan dihafal.

Di samping itu, gambar-gambar pendukung juga saya buat dengan sebaik dan seindah mungkin, kalau perlu menjiplak gambar asli dari buku cetak. Dan tentu saja diwarnai, kalau di buku cetak malah hitam putih saja.

Setiap menjelang ulangan atau ujian, buku catatan saya laris dipinjam untuk difotokopi oleh teman-teman. Saya menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk merapikan catatan, memang pekerjaan ini menyita waktu, namun inilah salah satu bagian dari TRAINING, yaitu membuat buku catatan yang baik, sekaliang mengulang pelajaran tadi.

Percayalah, saat menjelang ujian, adik-adik akan menyerah melihat setumpuk buku cetak yang harus dibaca kalau tidak punya buku catatan. Baru lihat lho, belum dibuka apalagi dibaca….. Jadi, lebih baik meringkas tumpukan buku cetak ke buku catatan kan? Lakukan ini berkali-kali (dicicil di sepanjang semester) sebagai bagian dari proses LATIHAN atau TRAINING dalam belajar. Kembangkan kreativitas otak kananmu, yaitu seni, keindahan, untuk membujuk otak kirimu agar tidak bosan melihat angka-angka dan teori hafalan.

Coba Perhatikan!

Banyak kawan-kawan yang pintar, biasanya suka seni. Kalau bukan menggambar, mungkin menyanyi, atau bermain musik, dan seterusnya.

Contoh lagi:

  • Gita Gutawa, ternyata juga juara kelas. Dia penyanyi hebat. Sherina juga begitu.
  • Agak senior sedikit, Tompi, penyanyi jazz terkenal, ternyata lulus dokter spesialis lho.
  • Pelukis Monalisa, juga orang pintar yang jago berhitung.
  • Kawan-kawan om di ITB, ada yang super gelo pintarnya, tulisannya super buruk untuk dibaca orang lain, ternyata juga hobi menggambar. Ada juga yang lainnya, super pintar tapi suka bahasa inggris dan menggambar. Malah ada yang punya grup band dan tampil di cafe, saat puasa dan lebaran kebanjiran order manggung. Lagi-lagi otak kanan kan?

Oke, mulai sekarang, coba temukan bakat otak kananmu, mungkin menggambar, melukis, bermusik, menyanyi, berpuisi, jadikan dia penunjang kinerja otak kirimu dalam bermatematik dan berhitung. Semoga sukses dan jadi juara.

%d blogger menyukai ini: