jump to navigation

Low-profile Philosophy Doctor 31 Mei 2009

Posted by juarakelas in Kisah Teladan.
trackback

Malam ini ada jamuan makan malam oleh dosen saya di salah satu tempat makan tradisional sunda yang enak di Depok. Beliau mengundang kolega dari Norwegia, kemudian beberapa rekan beliau waktu masih kuliah S3 di Jepang, dan seorang mahasiswa alumni S1 di bawah bimbingan beliau, yang sebentar lagi akan berangkat pula ke Jepang untuk S3 (program super doctor).
Saya terkesan dengan salah seorang kolega beliau, wanita Indonesia lulusan Jepang, kemudian Post-doctoral di Jerman, dan sekarang kembali ke Indonesia menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di wilayah Banten.
Impressed on what?
Ya, dengan sopannya beliau mengambilkan nasi dari bakul ke piring kami semua. Suatu kehormatan ‘dilayani’ oleh seorang Post Doc. Bicaranya pun sopan, lemah lembut, bahasa yang sangat sopan dan ditata dengan baik, bahkan lebih baku dari bahasa yang dipakai para presenter berita. Wah….
Tidak ada arogansi sama sekali, padahal sudah sempat mengalami sekolah post doc pula, mungkin sebentar lagi profesor, kalau kum-nya diurus dan mencukupi.
Kami berkumpul di sini, dalam rangka ramah-tamah sebelum acara seminar yang digagas oleh dosen saya tersebut, untuk dilaksanakan di kampus tempat saya bekerja. Pembicara utama (keynote speaker)-nya adalah profesor dari Norwegia tersebut, yang kebetulan pernah bertemu sekali dengan sang Post Doc, waktu sama-sama mengorganisasi acara konferensi somewhere di Eropa.

Kiranya benar kata pepatah bijak dari orang tua kita: Ibarat ilmu padi, makin berisi makin merunduk.
Sang Low-profile Ph.D telah menunjukkan kepada saya makna pepatah tersebut di dunia nyata.

Komentar»

No comments yet — be the first.