jump to navigation

Kasta-kasta akademik 31 Mei 2009

Posted by juarakelas in Diskusi boleh, asal jangan debat kusir.
trackback

Prof. Dr. Ing. B.J. HabibieMaaf Prof, apakah saya boleh bertemu?

Doktor Budi,… hari ini jadi isi ceramah kan?

Dok, kuliah Obgyn dibatalkan ya?

Gelar akademik di atas sering digunakan sebagai kata sapaan yang menyertai nama seseorang. Bagi orang-orang yang memakai gelar untuk menyertai nama dalam menyapa seseorang yang sudah tinggi sekolahnya, merupakan suatu sikap penghormatan  atas pencapaian di bidang akademik dari orang yang disapa atau diajak bicara.

Untuk menyapa, menggunakan penggalan gelar akademik atau yang utuh, seperti dokter, doktor, prof, profesor, di kalangan tertentu biasa,… di kalangan yang lainnya tidak biasa. Terserah bagi yang menggunakan, begitulah kira-kira.

Waktu saya kuliah s1 di ITB, guru besar yang profesor maupun dosen senior yang doktor, semua sama rata dipanggil Pak atau Bu, baik oleh sesama dosen, karyawan maupun mahasiswa. Juga waktu S2 di UI,… sama. Rasanya lebih enak, lebih dekat dan lebih terasa kekerabatan atau kekeluargaan, sehingga lebih akrab.

Waktu berada di suatu Univ Swasta, pemandangan yang berbeda saya temukan. Profesor biasa dipanggil dengan sapaan “Prof”, dokter dipanggil dengan sapaan “Dok”. sangat terasa ada jarak antara mereka yang berkomunikasi. Ya terpulang kepada yang menggunakan saja, kalau yang dipanggil lebih senang demikian, ya teruskan saja. Beberapa profesor malah lebih senang bila: “Cukup dengan Bapak saja ya…”

Suatu ketika, istilah Kasta Akademik diperdengarkan kepada saya (oleh seseorang, siapa ya? lupa sih), yang mungkin salah satunya berkaitan dengan hal ini. Menyapa dengan sapaan-sapaan tersebut, oleh ybs dianggap memelihara atau menumbuhkan kasta (kelas) di lingkungan akademik. Saya pikir,.. benar juga ya?

Kasta akademik juga menimbulkan arogansi senioritas di kalangan akademik. Contoh yang sempat membuat heboh adalah kasus terbunuhnya mahasiswa STPDN akibat penganiayaan senior. Bukan hanya STPDN, sekolah-sekolah lain yang dikelola departemen, seperti Sekolah Tinggi Kelautan pun sama, pernah ada kasus. Sekurang-kurangnya, sekolah-sekolah yang menerapkan unsur-unsur disiplin militer ini telah merenggut korban, setidaknya masuk rumah sakit karena luka dalam atau patah tulang…. Hiiiy… serem.

Contoh lain yang paling kentara dari peng-kasta-an ini adalah di lingkungan pendidikan dokter. Untuk beberapa program kuliah spesialisasi (PPDS), seperti Obgyn, Anak, Bedah,… tradisi kasta-kasta ini menimbulkan biaya tinggi, yang pada akhirnya menyebabkan biaya berobat jadi mahal. Untuk sekolah spesialis, seorang mahasiswa baru harus sedia dana lebih dari 200 juta (pertahun atau persemester ya?) untuk yang namanya entertain senior. Antara lain,… traktir makan, nonton,… mungkin sampai main bowling atau golf, tergantung maunya si senior yang nota bene masih sama-sama mahasiswa (residen di rumah sakit).

Pemerintah seharusnya memperbaiki sistem pendidikan dokter kita, supaya biaya berobat menjadi murah dan terjangkau bagi masyarakat umum. Kalau tetap seperti ini,… maka layanan kesehatan yang mencukupi bagi masyarakat cuma angan-angan, entah kapan bisa tercapai.

Kalau sudah begitu,… apakah tradisi kasta akademik atau senioritas ini masih tetap akan kita pertahankan?

Komentar»

No comments yet — be the first.