Oleh: juarakelas | 20 Oktober 2009

Belajar Sabar dan Ikhlas

Sabar,…. adalah kata sakral yang amat berat dilaksanakan.  Akan mudah menyuruh atau meminta orang lain untuk bersabar, tetapi amat sulit kalau diri kita sendiri yang harus bersabar atas suatu hal yang menyangkut kepentingan kita sendiri.

  • sabar menunggu pelayanan
  • sabar menjalani orientasi sekolah
  • sabar melaksanakan suruhan orang tua
  • sabar mendegarkan ceramah ustadz/guru/orang tua
  • sabar mengerjakan tugas sampai selesai
  • sabar meniti karir sampai puncak
  • sabar kehilangan sesuatu
  • sabar menjalani ujian
  • sabar menerima hukuman
  • sabar bila ditimpa musibah
  • sabar menjadi hamba yang tak berdaya dan ikhlas menerima apa yang telah ditakdirkan

Kata-kata “sabar”, lebih sering terdengar saat adanya musibah atau kemalangan. Misalnya ketiga gempa Sumatera Barat sebesar 7.6 skala Richter, atau saat ada famili yang wafat, atau saat ditimpa kesusahan dan kemalangan lainnya.  Demikian juga dengan kata-kata “ikhlas”, biasanya beriringan dengan kata-kata “sabar” tersebut.

Masalah sabar dan ikhlas dalam menyikapi musibah dan kemalangan, saya tidak akan bahas di sini, karena tentu lebih banyak yang berkompeten dan yang lebih faham mengenai ini. Tapi sesuai dengan topik blog ini, kata-kata sabar dan ikhlas perlu saya sampaikan sebagai sifat dan sikap yang harus dimiliki seorang calon juara untuk menggapai cita-citanya, menjadi juara yang tak terkalahkan… cieeee…

Mau Juara?… Harus Bersabar !!! … Ah, masa’ iya?

Untuk meniti jalan menuju juara, tidaklah mudah. Karena menjadi juara berarti ada yang terkalahkan. Tidak ada juara tanpa persaingan. Karena itu menjadi juara harus dengan perjuangan.

Menjadi juara kelas di sekolah, perjuangannya adalah belajar dengan tekun, rajin buat PR, kerjakan latihan di buku tanpa disuruh, dan rajin mengulang pelajaran.

Sabar,…. harus diamalkan dalam menjalani perjuangan menjadi juara kelas tersebut. Sabar dalam belajar, walaupun pelajarannya sulit, sudah berkali-kali diulang tak ngerti-ngerti juga. Sabar kalau dikasih PR banyak oleh guru… walaupun berat harus dikerjakan. Kali aja ada soal-soal yang bakal keluar ulangan. Sabar kalau diceramahin guru gara-gara datang telat karena begadang buat tugas. Sabar kalau harus disuruh membersihkan wc sebagai hukuman. Sabar kalau teman2 pada datang ke rumah nanyain PR, dan banyak lagi aplikasi sabar yang mesti diamalkan, kalau mau juara.

Ikhlas,… juga mengiringi sifat sabar yang perlu diamalkan juga. Ikhlas kalau disuruh ngerjain PR sampai begadang. Ikhlas kalau PR-nya dipinjam apalagi dicontek, padahal mengerjakannya sampai enggak tidur (ini yang berat…). Ikhlas kalau ternyata di atas langit masih ada langit, … artinya masih ada teman lain yang belum terkalahkan sebagai juara,… ikhlas kalau sampai akhir masa kelulusan enggak juara-juara juga. hehehe.

Yah,… sabar dan ikhlas,… sifat terpuji yang perlu dimiliki bagi setiap orang yang bermental juara. Kalau mau juara, …belajar sabar dan ikhlas ya.

Oleh: juarakelas | 22 Juni 2009

Tips dan mental juara: berani bersuara

Membangun mental juara sungguh berat. Salah satunya adalah berani bersuara, baik itu bertanya kepada guru atau menjawab pertanyaan. Ada 2 hal yang menyebabkan hal ini menjadi berat, yaitu:

  1. untuk bertanya, ada perasaan takut ditertawakan atau dianggap bodoh oleh teman-teman lainnya.
  2. untuk menjawab, ada perasaan takut salah, yang ujung-ujungnya kembali menjadi bahan tertawaan dan olok-olok.
Aktif bertanya atau menjawab pertanyaan

Aktif bertanya atau menjawab pertanyaan (pics: pro.corbis.com)

Untuk menumbuhkan keberanian bersuara, perlu adanya keyakinan diri yang tinggi, dan cukup muka tebal dan mental baja menghadapi olok-olok dari teman, yang belum tentu mereka pun berani berpendapat atau bertanya. Keberanian bersuara di dalam kelas, di depan orang banyak, terlebih dalam suatu acara yang dihadiri oleh banyak orang tak dikenal seperti seminar, merupakan mental juara yang belum tentu dimiliki oleh seorang juara kelas. Om sendiri baru mulai terbiasa mengangkat tangan untuk berpendapat maupun bertanya, ketika sekolah S2 di UI. ih,… lama juga ya menumbuhkan keberanian itu.

Oleh karena itu, kalau adik-adik sudah berani bersuara di depan umum, saat belajar di kelas misalnya, maka adik-adik sudah mempunyai mental juara. tinggal dipoles sedikit lagi, agar semua yang disuarakan berbobot, sehingga teman-teman justru akan respek kepada adik-adik.

Mempersiapkan pertanyaan yang berkaitan dengan bahan pelajaran yang akan diajarkan, kemudian menanyakannya di dalam kelas saat pelajaran, adalah salah satu tips yang sangat berguna. Kalau adik-adik bisa melakukannya, maka adik-adik sudah menjadi  juara. Karena keaktifan di kelas akan sangat dihargai oleh guru, dan bisa jadi adik-adik akan dianggap pintar oleh guru dan teman.

Ingat, dianggap pintar aja sudah bagus, apalagi pintar beneran….. demikian kata Om Romi Satria Wahono, inisiator ilmukomputer.com.

Semoga tips ini bisa mendorong adik-adik lebih berprestasi lagi di sekolah.

sukses selalu.

Oleh: juarakelas | 3 Juni 2009

Tips Ketiga Menuju Juara

Halo semua ponakan Om yang cerdas-cerdas di mana saja berada, senang ketemu lagi dengan kalian.
Yang enggak mau cerdas ndak boleh mbaca ya… hehehe.

Walau saat ini mata Om ngantuk berat, udah 5 watt, Om coba menulis tips selanjutnya supaya ngantuknya hilang.

Yang lalu sampai tips kedua ya. Nah, ini tips ketiga. Simak baik-baik.

Setelah kalian mencatat yang rapi buku catatan, dan menjadi primadona baru bagi teman-teman untuk dipinjam, maka kalian sudah dekat kepada status master di kelas.
Kalau sudah tenar sebagai master buku catatan, saatnya kalian tampil menjadi master buku PR dan Latihan.belajar

Gimana caranya?
Cobalah iseng-iseng kerjakan soal-soal di buku, buat jawaban dengan langkah-langkah yang rapi, khususnya  pelajaran eksakta seperti Matematika/Berhitung, Fisika, Kimia.
Kalau pelajaran hafalan, buat dalam kalimat-kalimat yang singkat tapi mencakup semua hal yang ditanyakan (misalnya Biologi,PPKN atau IPS).
Jawaban di tulis dalam buku latihan khusus, kertas buram/HVS juga boleh, asal nanti dikumpulkan jadi satu pakai klip/Map.
Tapi kalau itu adalah PR dari sekolah, ya mesti dikerjakan di buku PR dong.

Jangan lupa, untuk menjawab soal, pakailah buku catatan (dari tips kedua) sebagai panduan. Hindari pakai buku cetak/buku pegangan.
Semakin banyak kamu mengerjakan soal, maka semakin ketahuan bahwa catatan yang telah dibuat cantik berwarna-warni itu tidak lengkap. Sehingga, kalian akan terpaksa baca buku cetak lagi untuk mencari jawabannya. Sambil itu, lengkapi buku catatannya,….

Nah, kalau kamu sudah bisa menjawab beberapa soal di buku, dan dibuat di buku khusus tadi,… kalian sudah menapaki jalan sebagai MASTER PR atau MASTER LATIHAN.

Kalau ada teman-teman yang kesulitan PR, tinggal tawarin aja,…. mau dipinjami buku jawaban, atau mau diajari cara menjawab soal. Ini adalah strategi untuk jadi terkenal juga lho,.. hehehe.

Kalau mereka maunya cuma pinjam buku aja, ya kasih aja…. kasihan… apalagi kalau sampai bela-belain datang ke rumah ujan-ujan buat minjam buku. Tapi sebetulnya lebih kasihan lagi karena mereka cuma nyalin PR. Ya apa boleh buat, maunya orang susah diintervensi ya? apalagi jaman demokrasi begini.

Tapi kalau teman-teman minta diajarin cara menjawab soal-soal PR, maka ini adalah kesempatan emas bagi kalian untuk membuktikan bahwa soal-soal itu sudah kalian kuasai baik-baik, sehingga kalau keluar soal seperti itu lagi, tinggal telan aja. hehehe.
Dengan ngajarin teman, berarti kalian berlatih lagi soal itu tanpa melihat buku. Jadi, kalian semakin menguasai bahan pelajaran itu. Bergembiralah kalau berhasil ngajarin teman tanpa lihat buku. Kalian sudah dekat menuju juara.

Oke,.. sepertinya tips ketiga cukup sekian dulu,… kalau kebanyakan nanti kalian malah bingung mengamalkannya (mempraktekkannya).

Segera dicoba ya,… Lebih Cepat Lebih Baik !!

Selamat menempuh jalan untuk menjadi juara.
cheers.

Oleh: juarakelas | 31 Mei 2009

Juara adalah pilihan

“Ma,… aku bosan belajar. habisnya,… susah sih…!! Mau main ke mall dulu ah, refreshing cuci mata”
“Hmmm….. saya lebih cocok jadi guru atau jadi dokter ya? “
“Aduh,… kalau aku banting setir jadi pengusaha,… nanti kalau gagal gimana?”
“Ah, Tuhan sudah menakdirkan jalan hidupku seperti ini. Jadi ndak perlu lah susah-susah usaha begini begitu. Toh hasilnya sama aja,… orang udah takdirnya gini kok, mau apa lagi? “

Beberapa penggalan di atas sudah biasa kita dengar sehari-hari. Ungkapan kepasrahan pada nasib, takdir, dan jalan hidup yang sudah pasti. Kebanyakan menyandarkan pada ketetapan Tuhan, bahwa takdir manusia telah ditetapkan di dalam kitab Lauhil Mahfuz. jadi kalau sudah ditakdirkan kadar rezkinya cuma pas-pasan untuk makan, ya sudah diterima saja. Atau kalau sudah merasa bahwa anak kita sudah ditakdirkan untuk jadi nomor kincit di kelas (peringkat bawah)… mau apa lagi? toh dipaksain belajar juga otaknya segitu-segitu aja. Ya,… pasrah dan pasrah.

Allah SWT memang telah menyatakan bahwa jalan hidup kita sudah ditetapkan di dalam kitab yang disebut Lauhil Mahfuz. Tapi jangan lupa, bahwa Allah SWT juga menyatakan, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau bukan mereka sendiri yang berusaha mengubahnya.

Apakah hal ini kontradiktif? Ternyata sangat masuk akal. Setelah saya mendapat gambaran di dalam bidang ilmu komputer, bahwa dalam sistem komputer apapun, selalu ada IF-THEN-ELSE.
Jadi, bahwa jalan hidup kita sudah jelas tertulis, benar. Dan kita pun harus memperjuangkan nasib kita sendiri, sesuai dengan IF-THEN-ELSE rule di atas.

Apakah seorang anak yang tadinya ranking buncit bisa berhasil? InsyaAllah bisa. Ingat IF-THEN-ELSE.
Seorang teman yang dulu kerjanya nyontek saya kalau ulangan, sekarang jadi dosen dan sudah S2 lebih dahulu dari saya.
Teman lainnya yang dulu biasa-biasa, sekarang telah menjadi enterpreneur yang sukses.
Sebaliknya,…. orang-orang yang dulu dominan, sekarang bisa jadi pesakitan. sekali lagi,… IF-THEN-ELSE.

Gambar di bawah ini menggambarkan suatu jaringan kusut (mesh network) dalam sistem jaringan komputer. Bayangkan kalau garis-garis tersebut adalah jalan hidup kita, yang unik antara setiap orang, yang tercatat di dalam Lauhil Mahfuz. Rute mana yang kita pilih, menentukan akhir pencapaian kita pada setiap titik kehidupan kita.

mesh_network_in_our_life

Jaringan kusut dalam kehidupan kita, setiap titik adalah pilihan

Anggap saja posisi saya, atau anda, atau anak-anak kita ada di titik hijau di suatu tempat di dalam jaringan kusut ini. setiap pilihan jalur dari titik ini akan mengantarkan kita ke titik selanjutnya yang berbeda-beda pula.

Jadi, IF saya pilih jalan ini, THEN saya akan mempunyai pendapatan lebih, dengan resiko ini, ELSE IF saya diam saja, THEN saya akan tetap seperti sekarang, selalu berkeluh kesah kekurangan. ELSE, saya ambil jalan itu, THEN saya akan mengalami rugi banyak, baru bisa kaya sepuluh tahun lagi.

Nah,… semua premise setelah THEN,… kita tidak tahu. Di sanalah Qadha berlaku, yaitu ketetapan Allah yang belum terjadi. setelah kita lalui jalan tersebut, hasil yang kita peroleh menjadi Qadar (takdir) yang tidak dapat diubah lagi.

Hasil tersebut adalah satu titik lain dengan percabangan lain pula untuk selanjutnya. Hidup terus berlanjut, dan kita kembali dihadapkan kepada pilihan, IF-THEN-ELSE.

Kalau begitu, mengapa harus menyerah kepada nasib?

untuk ponakan Om yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, jangan ratapi nasib kalau naik kelas sekarang nilainya masih ada yang tidak memuaskan, apalagi angka merah. Pilihlah jalur lain yang akan mengubahmu menjadi juara di semester berikutnya. Karena itu, rambah terus tips jadi juara dalam blog ini ya…. :)

untuk orang tua yang sering memarahi anaknya karena malas belajar, pilihlah jalur lain yang lebih memotifasi anak untuk belajar dengan kesadarannya sendiri, ciptakan lingkungan yang menyenangkan bagi anak untuk belajar di rumah. Jangan dimarahi terus, buatlah suasana lebih “romantis” kepada anak, jangan cuma kepada pasangan saja. :)

Jadi tidak benar kalau hidup kita adalah straight forward, lurus-lurus saja. Setiap detik adalah persimpangan, percabangan dari IF-THEN-ELSE dari jalan hidup kita yang sudah ditetapkan. Tinggal kita yang mau memilih, rute mana yang akan kita tempuh.

Kalau kita sudah mencapai ujung dari jaringan kusut ini, maka semua rute yang telah kita tempuh akan dipertanyakan, harus dipertanggung jawabkan.

Ilmu yang kauperoleh, untuk apa engkau gunakan?

Umur yang diberikan, untuk apa engkau habiskan?

Harta semasa di dunia, dari mana asalnya dan ke mana dibelanjakan?

Oleh: juarakelas | 31 Mei 2009

Low-profile Philosophy Doctor

Malam ini ada jamuan makan malam oleh dosen saya di salah satu tempat makan tradisional sunda yang enak di Depok. Beliau mengundang kolega dari Norwegia, kemudian beberapa rekan beliau waktu masih kuliah S3 di Jepang, dan seorang mahasiswa alumni S1 di bawah bimbingan beliau, yang sebentar lagi akan berangkat pula ke Jepang untuk S3 (program super doctor).
Saya terkesan dengan salah seorang kolega beliau, wanita Indonesia lulusan Jepang, kemudian Post-doctoral di Jerman, dan sekarang kembali ke Indonesia menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di wilayah Banten.
Impressed on what?
Ya, dengan sopannya beliau mengambilkan nasi dari bakul ke piring kami semua. Suatu kehormatan ‘dilayani’ oleh seorang Post Doc. Bicaranya pun sopan, lemah lembut, bahasa yang sangat sopan dan ditata dengan baik, bahkan lebih baku dari bahasa yang dipakai para presenter berita. Wah….
Tidak ada arogansi sama sekali, padahal sudah sempat mengalami sekolah post doc pula, mungkin sebentar lagi profesor, kalau kum-nya diurus dan mencukupi.
Kami berkumpul di sini, dalam rangka ramah-tamah sebelum acara seminar yang digagas oleh dosen saya tersebut, untuk dilaksanakan di kampus tempat saya bekerja. Pembicara utama (keynote speaker)-nya adalah profesor dari Norwegia tersebut, yang kebetulan pernah bertemu sekali dengan sang Post Doc, waktu sama-sama mengorganisasi acara konferensi somewhere di Eropa.

Kiranya benar kata pepatah bijak dari orang tua kita: Ibarat ilmu padi, makin berisi makin merunduk.
Sang Low-profile Ph.D telah menunjukkan kepada saya makna pepatah tersebut di dunia nyata.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori